Waspada Bila Anda Sering Lelah!

Merasakan perjuangan yang amat berat saat bangun tidur di pagi hari? Atau bahkan dilanda kesulitan untuk menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang tergolong ringan?

Rasa lelah kerap kali menjadi keluhan bagi beberapa orang. Sehingga sering dianggap sebagai penyakit. Padahal sebenarnya kelelahan merupakan sebuah gejala.

"Kelelahan merupakan sensasi subjektif yang dialami oleh seseorang, yang diakibatkan oleh penggunaan energi secara berlebihan atau pekerjaan yang bersifat monoton," ujar dr. Michael Triangto, SpKO, Sport Medicine Specialist dari Slim+Health Sports Therapy Clinic.

Sensasi tersebut akhirnya berdampak pada kehidupan seseorang. Seperti menghambat aktivitas, menurunkan tingkat konsentrasi, hingga penurunan tingkat kewaspadaan secara signifikan.

Definisi lain dari kelelahan adalah penurunan tingkat kesadaran dan performa seseorang. Sehingga tidak dapat lagi melakukan pekerjaan yang biasanya mampu ia lakukan.

Jenis kelelahan
Secara garis besar, terdapat dua jenis kelelahan. Yaitu kelelahan fisik dan emosional. Kelelahan fisik merupakan kelelahan akibat terkurasnya energi.

Kelelahan jenis ini justru berguna untuk melindungi diri. Fungsinya seperti alarm yang mengingatkan bahwa Anda butuh istirahat. Dengan istirahat yang cukup, pada umumnya rasa lelah akan hilang secara berangsur.

Beberapa penyebabnya antara lain: Kebiasan makan atau tidur tidak teratur. Ketidakseimbangan pada tingkat elektrolit darah (sodium, potasium, dan mineral-mineral lainnya). Pekerjaan yang terlalu menguras energi. Pola aktivitas yang monoton. Atau kemunculan berbagai penyakit, seperti diabetes, anemia, dan kurangnya waktu tidur.

Kelelahan fisik umumnya bermuara pada kurangnya waktu tidur yang dapat disebabkan oleh tingkat kesibukan yang begitu tinggi, ataupun insomnia. Sementara kelelahan emosional biasanya disebabkan oleh terlalu luasnya lingkup dan bobot aspek permasalahan yang dihadapi, dan ketahanan emosi yang lemah serta kurang relaksasi.

Kelelahan emosional pada umumnya disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut: Burnout (merusak diri sendiri dengan bekerja terlalu keras). Perubahan (dihadapkan pada krisis kehidupan yang besar ). Kejenuhan (hidup terasa monoton atau hilangnya gairah dalam rutinitas sehari-hari), hingga depresi.

Banyak makan, cepat lelah
Seperti diungkapkan oleh dr. Michael, "Walaupun seseorang memiliki ketahanan fisik yang baik, namun tekanan mental yang terjadi dalam level emosional seseorang akan mengakibatkan rasa lelah yang luar biasa. Sehingga kedua hal tersebut harus menjadi perhatian besar dalam upaya menangani kelelahan."

Ditambahkannya pula bahwa kelelahan lebih banyak terjadi karena seseorang yang terlalu banyak makan dibandingkan dengan seseorang yang sedikit makan.

Orang yang gemuk membutuhkan jumlah energi yang lebih besar untuk membawa tubuhnya, seiring dengan kenaikan berat badannya. Orang yang mengalami kegemukan dan obesitas tidak selalu diidentikkan dengan penyakit.

Meskipun begitu obesitas dapat menjadi penyebab gangguan tidur dan sangat berkontribusi dalam sulitnya bernafas ketika tidur atau sleep apnea (gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitas napas dan terjadi berulang-ulang).

Mungkin Anda tidak menyadarinya. Tetapi setiap kali muncul gangguan ini, kualitas tidur akan menurun. Hal ini menyebabkan Anda tetap merasa kurang tidur meski sudah menghabiskan waktu delapan jam untuk istirahat.

Kelelahan terbilang normal
Sleep apnea juga berkaitan dengan berbagai penyakit, seperti hipertensi, gangguan jantung, diabetes, dan stroke. Sleep apnea terjadi akibat penyempitan saluran napas selama tidur, akibatnya, pasokan oksigen akan berulang kali terhenti sepanjang malam.

Lalu sejauh mana kelelahan terbilang normal? "Kita tidak bisa menjadikan kata normal sebagai tolak ukur di sini, karena terdapat berbagai aspek subjektif yang memengaruhi kadar normal tersebut, salah satunya adalah usia.

"Merupakan sebuah fakta menyatakan bahwa bila semakin tua seseorang, maka waktu tidurnya akan menjadi semakin pendek, akan lebih baik jika kita melihat dari kualitas hidup yang dihasilkan oleh pola tidur seseorang."

Dalam kondisi umum, seorang manusia membutuhkan waktu tidur enam hingga delapan jam, namun hal tersebut nampaknya sudah menjadi sebuah kemewahan di tengah para penduduk kota besar dengan bobot aktivitas yang besar.

Lalu apa yang harus dilakukan? Anda dapat mengatasinya dengan membayar waktu tidur yang telah hilang, yang dapat dilakukan pada akhir minggu, sehingga cukup untuk membuat Anda menjalani aktivitas pada hari-hari sesudahnya.


Sumber: Majalah Bazaar Desember 2012

Komentar

Postingan populer dari blog ini

4 Tipe Bos

Tips Galau

Biar Keliatan Pinter: Otak Kiri atau Otak kanan?